Rabu, September 29, 2021
BerandaBeritaSejarah Supersemar : Latar Belakang, Isi, dan Tujuan

Sejarah Supersemar : Latar Belakang, Isi, dan Tujuan

Ekspose.ID – Surat Perintah Sebelas Maret atau yang biasa disebut dengan Supersemar merupakan surat perintah penyerahan amanat dari Presiden (Soekarno) kepada Presiden Soeharto pada tanggal 11 Maret 1966. Ada tiga jenderal yang datang menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor pada 11 Maret 1966 yang berhasil untuk meyakinkan Presiden Soekarno membuat surat perintah kepada Jenderal Soeharto, yang dikenal dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Saat ini kiranya sudah memasuki usia 55 tahun peristiwa lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Mulai dari sinilah tonggak sejarah melahirkan orde baru pimpinan Presiden Soeharto. Banyak Kontroversi yang muncul terhadap isi dari Supersemar. Karena memang hinggga saat ini naskah perintah yang asli tidak pernah ditemukan. Banyak dugaan kelahiran dari Supersemar membuka jalan Presiden Soeharto untuk menjabat menjadi kepala negara menggantikan Presiden Soekarno.

Ada beberapa versi yang disimpan dengan baik oleh ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesi) yakni ;

1 dari Akademi Kebangsaaan.

1 dari Pusat Penerbangan TNI AD.

2 Dari Sekretariat Negara (terdiri dari 2 versi ada yang berupa 1 lembar maupun 2 lembar).

Dari sekian banyak surat yang terkumpul, tidak ada satupun yang merupakan naskah asli tutur M. Asichin (Mantan Ketua ANRI). Seperti dikutip dari (www.menpan.go.id) bahwa “Dari pemeriksaan forensik Mabes Polri, dijelaskan surat-surat yang terkumpul semuanya dinyatakan belum ada yang orisinal. Surat- surat tersebut belum ada yang autentik, sehingga dari segi historis masih perlu pencarian di mana keberadaan yang asli.

Lalu sebenarnya bagaima latar belakang munculnya Supersemar ini?

Latar Belakang

Sebenarnya latar belakang dimulai dari adanya 2 faktor yaitu kisruh dalam negeri atas peristiwa G30S/PKI yang terjadi pada 1 Oktober 1965 serta tidak ada wibawanya pemerintah di mata rakyat sehingga harus membuat langkah tegas untuk menyelamatkan Negara Republik Indonesia (NKRI).

Dalam buku Sejarah Indonesia Modern (20017) yang ditulis oleh MC Ricklefs menyebutkan bahwa “Demokrasi Presiden Sorkarno telah runtuh pada Oktober 1965”.

Tentara banyak yang menuding bahwa dalang dibalik pembunuhan tujuh jenderal adalah Partai Komunis Indonesia. Sikap ini memicu amarah pemuda anti komunis yang kemudian Pada tanggal 11 Maret 1966 terjadi juga demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di depan Istana Negara. Maka dari itu, diberikanlah wewenang kepada Presiden Soeharto untuk memulihkan kondisi keamanan atas peristiwa tersebut yang melibatkan TNI dan Partai Komunis Indonesia.

Mulailah pada tanggal 12 Maret 1966 sehari setelah mendapatkan surat perintah dari Presiden Soekarno, Presiden Soeharto bergerak cepat untuk memberantas Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan bekal Supersemar dari Soekarno, akhirnya Presiden Soeharto mengeluarkan Kepuusan Presiden Nomor 1 Maret 1996 tentang pembubaran PKI. Di mana isinya yakni membubarkan PKI dari tingkat yang paling atas (pusat) sampai tingkat -tingkat daerah beserta semua organisasi underbownya.

Kedua, Soeharto menyatakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah kekuasaan negara Republik Indonesia. Yang dijadikan dasarnya adalah Sidang Mahmilub tentang keterlibatan PKI dalam peristiwa Gerakan 30 September. Sebelumnya, Presiden Soekarno sempat mengirimkan surat kedua yang berisi protes, namun surat itu mengingatkan Soeharto wewenangnya hanya pada pemulihan keamanan dan ketertiban negara, bukan untuk membubarkan partai politik. Namun surat yang diajukan tersebut tak ada tanggapan lanjut dari Presiden Soeharto.

Isi Supersemar

Untuk isi dari Supersemar sendiri sebenarnya perintah dalam mengambil keputusan dan tindakan untuk mengembalikan Indonesia seperti sedia kala. Beberapa poin- poin penting yang terdapat dalam isi tersebut diantaranya:

1. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya Revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan Lain dengan sebaik-baiknya.

3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.

Tujuan Supersemar

Adapun tujuan awalnya pembuatan surat ini tidak lain adalah memberantai Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta ormas-ormasnya dan menyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia. Tujuan yang lain guna menangkap 15 menteri yang diduga kuat mendukung gerakan G30S/PPKI, dan yang terakhir adalah Pemurnian MPRS dan lembaga negara lain dari unsur PKI dan menempatkan peranan lembaga sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Pengungkapan tentang keaslian Supersemar tidak pernah menemukan titik terang. Sehingga timbul berbagai spekulasi mulai dari bentuk aslinya, keberadaan surat tersebut hingga tujuan sebenarnya surat perintah tersebut dibuat. Sampai saat ini orang-orang yang berperan langsung dalam Supersemar mulai dari (Soekarno, Soeharto, maupun ke tiga Jenderal yang terlibat (Basuki Rachmat- Menteri Veteran), (Brigjen M. Jusuf- Menteri Perindustrian), dan (Brigjen Amirmachmud) semuanya sudah tiada. Selama hidup, tidak ada satu pun diantara mereka yang buka suara. Hal inilah yang membuat kondisi ini sekan dikubur secara perlahan.

Berita Terkait
- Advertisment -

TERPOPULER