Tradisi Munggahan Menyambut Ramadhan

0
199
Tradisi Munggahan Menyambut Ramadhan
Tradisi Munggahan Menyambut Ramadhan

Ekspose.ID – Tradisi munggahan memang sering terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat Indonesia pemeluk agama Islam pastinya sudah mengetahui dan bahkan sering menlakukannya.

Salah satu tradisi ini, ada saat bulan Ramadhan hampir tiba. Biasanya para warga memiliki cara tersendiri untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah dengan munggahan tersebut.

Indonesia sendiri memang terkenal akan tradisi dan budaya yang cukup banyak. Tradisi apapun itu masih ada sampai saat ini sebagai bentuk pelestarian dan diketahui oleh anak cucu.

Apakah anda sudah mengetahui akan tradisi ini? Atau malah selalu menyelenggarakannya saat bulan Ramadhan tiba?

Kali ini anda bisa melihat tentang tradisi munggahan agar dapat mengetahui lebih dalam akan keberadaannya.

Apa Itu Tradisi Munggahan ?

Masyarakat islam pastinya mengetahui tentang tradisi yang kerap mereka rayakan tersebut. Namun masih ada beberapa orang yang belum paham dengan betul segala tentangnya. Tradisi munggahan merupakan budaya masyarakat khususnya beragama Islam di suku Sunda sebagai bentuk penyambutan datangnya bulan suci Ramadhan.

Umumnya tradisi tersebut mereka lakukan saat akhir bulan Sya’ban yaitu satu atau dua hari sebelum masuk ke bulan Ramadhan.

Wujud pelaksaannya pun bermacam-macam sesuai kebiasaan suatu daerah ataupun keluarga itu sendiri. Misalnya saja berkumpul bersama keluarga besar hingga kerabat jauh.

Bentuk lainnya pun berupa makan bersama, dan berlanjut dengan saling meminta maaf kemudian memanjatkan doa bersama.

Tak hanya dengan berkumpul saja, tradisi munggahan ini juga kerap masyarakat lakukan dalam bentuk lain. Seperti berkunjung ke tempat wisata dengan keluarga, melakukan ziarah ke makam leluhur maupun alim ulama. Serta tradisi ini juga bisa berbentuk pengalaman sedekah munggah yaitu beramal saat sehari sebelum bulan Ramadhan.

Kata munggahan sendiri berasal dari Bahasa Sunda sesuai kemunculannya. Awalan kata tersebut berupa unggah yang memiliki arti naik. Tak hanya memilki arti sederhana berupa naik, munggahan juga mempunyai makna tersendiri yang erat kaitannya dengan bulan Ramadhan.

Asal Usul Budaya Munggahan

Terdapat makna tersendiri dari keberadaan tradisi munggahan tersebut. Memiliki arti naik, hal tersebut menyiratkan naik ke bulan tersuci yaitu Ramadhan dan menjadikan derajatnya tinggi.

Sehingga tradisi tersebut memiliki maksud untuk ungkapan rasa syukur umat islam kepada Allah SWT. Dengan budaya ini bertujuan agar membersihkan diri sendiri dari keburukan di bulan sebelumnya. Juga agar umat islam terhindar dari perbuatan buruk baik dari pribadi masing-masing maupun orang sekitar saat menjalankan puasa.

Munggahan tersebut berasal dari wujud relasi social di masyarakat khusunya daerah Sunda. Biasanya relasi tersebut memiliki struktur sendiri dari tingkat atas bernama Hinggil hingga ke Handap yaitu golongan bawah.

Maksud dari tingkat atas tersebut adalah generasi tertua biasanya anak pertama ataupun kedua yang berdomisili di daerah dalam. Sedangkan maksud dari Handap yaitu golongan bawah adalah anak bungsu yang menetap di luar daerah atau kata lainnya merantau.

Keberadaan kelompok atas tersebut mempunyai tugas penting. Adapun peranan tersebut adalah untuk menjaga akan keberlangsungan budaya leluhur yang masih asli.

Sedangkan golongan bawah dengan pilihan merantau bertujuan untuk mengembangkan berbagai aspek. Misalnya ekonomi, politik, social dan lainnya bersama dengan sesama perantau.

Karena inilah menyebabkan golongan bawah tidak bisa melakukan komunikasi kepada para leluhur saat bulan Ramadhan hampir tiba.

Sebab itulah mereka perlu naik atau munggah dengan berkumpul kepada kelompok atas dan berkomunikasi dengan leluhur. Inilah yang menjadikan asal usul tradisi munggahan ada dan berkembang di masyarakat.

Bentuk Munggahan Saat Pandemi

Seperti yang kita tahu, bentuk tradisi munggahan adalah berkumpul antar keluarga, kerabat maupun orang terdekat lainnya. Kemudian bersama-sama melakukan kegiatan seperti makan-makan sampai berdoa.

Akan tetapi di situasi pandemi corona seperti sekarang alangkah baiknya tradisi tersebut dilakukan dalam bentuk lain. Meskipun berkumpul bersama orang terdekat, tak menutup kemungkinan penularan virus bisa terjadi.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik kita harus mendukung usaha pemerintah dalam mengurangi corona. Salah satunya adalah menyelenggarakan tradisi munggahan dengan tidak saling berkumpul.

Anda tidak perlu khawatir, sebab masih ada banyak cara untuk melakukan tradisi ini tanpa harus menyebarkan virus dan nilai kebersamaannya tetap terasa.

Wujud munggahan pertama yang bisa anda lakukan adalah mengirimkan makanan dengan jasa pengiriman. Hal ini sebagai wujud pergantian dari kegiatan makan bersama yang biasanya berupa saling berkumpul dan melibatkan banyak orang.

Anda bisa memasak menu istimewa kemudian mengirimkannya melalui kurir ataupun ojek online kepada kerabat. Dengan begitu, mereka juga bisa mencicipi dan makan menu yang sama dengan anda.

Tak hanya saling mengirimkan makanan, bentuk tradisi munggahan saat pendemi lainnya adalah dengan melakukan video call. Anda bisa saling bertelepon video baik kepada satu orang saja maupun dengan keluarga besar.

Melalui cara ini, bisa mengurangi rasa kerinduan dan tetap masih merasakan kehangatan berkumpul bersama keluarga besar.

Sudah anda ketahui bahwa munggahan bukan hanya berbentuk makan dan berkumpul saja. Ada sisi keislaman lainnya yang jarang orang wujudkan.

Sedekah merupakan bentuk munggahan lainnya yang bisa anda lakukan di hari menjelang bulan Ramdhan tersebut. Anda bisa mengajak anak untuk bersedekah sedini mungkin dan mengaitaknnya dengan munggahan.

Meskipun pandemi, ada banyak cara untuk melakukan sedekah dari rumah saja. Bisa dengan menghubungi badan amal, atau transfer ke rekening penerima sedekah tersebut.

Budaya Munggahan Menurut Islam

Agama islam memang banyak mencontohkan kebiasaan positif dari nabi Muhammad SAW. Kemudian kebiasaan inilah yang akan ditiru oleh umat.

Akan tetapi, nyatanya tradisi munggahan tersebut tidak ada sejak jaman nabi Muhammad SAW. Bahkan beliau tidak pernah mencontohkannya saat bulan Ramadhan tiba pada masanya.

Jika kita menarik garis besar dan mengkajinya secara fiqih maka budaya ini memang tidak Rasulullah contohkan secara langsung. Akan tetapi jika anda melihatnya dari hikmah juga maknanya sehingga menjadi budaya maka memiliki arti lain.

Dalam tradisi ini kita tidak mendapati adanya pelanggaran batasan syariah yang ada. Bahkan keberadaan budaya tersebut bisa menjadi pendorong semangat dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Sehingga menjadikan penyambutan tersebut berlangsung secara meriah dan penuh kekeluargaan selama tidak berlebihan.

Bahkan adanya tradisi munggahan tersebut bisa memperkenalkan syiar kepada semua orang bahwa Ramadhan adalah bulan suci. Melalui munggahan tersebut bisa menjadi tanda tersendiri untuk semua umat baik anak kecil sampai tua dan non muslim bahwa bulan suci ini akan tiba.

Selain itu, saat munggahan ini berlangsung, umat muslim bisa mempersiapkan diri dengan bersuci agar kala berpuasa dalam keadaan suci. Sehingga hukum dari tradisi munggahan adalah bid’ah. Artinya adalah inovasi ataupun pembaruan.

Sebab tradisi tersebut adalah bentuk inovasi yang melambangkan umat beragama juga berbudaya. Karena itulah jika anda masih melakuakn tradisi munggahan boleh-boleh saja selama tidak berlebihan.