Spirit Idul Adha dan Kepemimpinan Profetik dalam Menghadapi Pandemi Covid 19

(Refleksi Idul Adha dan Keteladanan Nabi Ibrahim)

0
27

Bulan ini merupakan bulan yang sangat bersejarah bagi umat Islam, yaitu  Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijah 1442 H).

Idul Adha identik dengan Idul Qurban yang mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa sejarah penting, yang menunjukkan pelajaran amat sangat berharga.

Idul Adha telah mendorong kita untuk mengingat dan mengambil pelajaran dari kisah kesabaran Nabi Ibrahim dan Ismail dalam perjalanan cintanya kepada Allah SWT.

Kesabaran transendental ini merupakan modal spiritual yang sangat berarti, saat ini di tengah makin carut marutnya persoalan yang kita hadapi karena semakin kompleks dan menuntut kesabaran kolektif yang tinggi.

Kita dihadapkan pada situasi yang penuh dengan volatility, uncertainty, complexity, ambiguity yang telah mengubah seluruh tatanan kehidupan kita.

Jika dikaji secara mendalam maka dapat ditemukan bahwa salah satu masalah mendasar dalam mengurai benang kusut kompleksitas persoalan negeri ini adalah masalah kepemimpinan.

Kepemimpinan ini dianggap sebagai pondasi dasar, managemen kepemimpinan yang bagus akan membawa pada tercapainya tujuan bernegara.

Tapi sebaliknya managemen yang buruk akan membawa pada kehancuran tatanan berbangsa dan bernegara.

Dalam kondisi pandemi Covid 19 kepemimpinan diuji dan kualitas kepemimpinan akan menunjukkan pemimpin yang sebenarnya.

Bukan pemimpin yang besar karena pencitraan palsu atau yang dibesarkan oleh media, pemimpin yang benar-benar otentik.

Salah satu tugas seorang pemimpin adalah menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya, melepaskannya dari kemiskinan dan ketertindasan atau disebut liberasi.

Sejalan dengan itu, maka kepemimpinan dimaknai sebagai cara ataupun metode yang digunakan oleh pemimpin untuk memberikan motivasi, masukan, dan kritikan pada orang yang dipimpinnya.

Dengan tujuan agar semuanya mau bersama-sama dalam mewujudkan visi dan misi pemimpin. 

Kepemimpinan Profetik

Salah satu tawaran konsep kepemimpinan ideal diutarakan oleh Kuntowijoyo (1991), yaitu konsep Kepemimpinan Profetik.

Implikasi dari konsep kepemimpinan profetik itu sendiri terlihat dari tiga aspek mendasar.

Pertama, kepemimpinan profetik diarahkan pada penerapan nilai-nilai humanisasi.

Kedua, nilai yang melepaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan dan ketertindasan atau disebut liberasi.

Ketiga, nilai humanisasi dan liberasi harus diarahkan pada nilai transendensi.

Kepemimpinan profetik mempunyai unsur penting dalam penataan masyarakat madani.

Hal ini dikuatkan dengan pendapat Budiarto (2008) yang menyebutkan nilai dasar shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah sebagai nilai mutlak dalam menjalankan kepemimpinan.

Kepemimpinan profetik merupakan gabungan dari dua defenisi yang bisa diartikan ke dalam beberapa terminologi.

Pertama, kepemimpinan profetik mempunyai dimensi yang sama dengan kepemimpinan pada umumnya.

Kepemimpinan diidentikkan dengan kemampuan dalam mendorong dan memimpin anggota dalam mewujudkan visi bersama.

Kedua, dimensi profetik menjadi poin penting, maka kepemimpinan harus didasarkan pada sifat dan karakter seorang Nabi.

Setidaknya bisa disamakan dengan upaya mewujudkan visi dan misi kenabian.

Saat ini kita dihadapkan pada sengkarut politik berkepanjangan, hal ini terbukti dari menguatnya dominasi oligarki dalam kekuasaan, baik eksekutif maupun legislatif dan yudikatif.

Hukum dijadikan komoditas politik yang mengakibatkan adanya diskriminasi dan syarat kepentingan.

Terjadilah tebang pilih dalam proses penegakan hukum, kebenaran hanya milik penguasa dan yang pro penguasa.

Keadilan sebagai tujuan utama yang diinginkan oleh masyarakat sulit didapatkan.

Maka dalam konteks politik saat ini konsep kepemiminan profetik bisa menjadi solusi dalam menentukan kepemiminan masa depan.

PPKM Darurat dan Spirit Idul Adha

Dalam kondisi saat ini bangsa kita sering dihadapkan pada gaya kepemiminan yang absurd. Contoh paling absurd yang sangat sulit difahami ketika Kemenko Maritim dan Investasi justru menjadi panglima dalam PPKM Darurat dalam penanganan covid 19,

Bukankah ini wilayah Kemenko Kesra, apa urusanya dengan Maritim dan Investasi? 

Akibatnya banyak kebijakan yang dirasa janggal dan tidak sejalan dengan tujuan membebaskan bangsa dari pandemi yang berkepanjangan.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak melihat arah good governance dan clean goverment.

Bahkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah semakin hari semakin berkurang, ditambah lagi sikap ambigu dalam penerapan PPKM yang makin menggerus kepercayaan publik.

Saat negara lain menutup seluruh akses penerbangan dan gerbang pintu masuk Internasional, kita justru membuka gerbang lebar-lebar.

Akibatnya kita kebanjiran TKA China di beberapa tempat.

Bahkan ironisnya, masuknya buruh kasar TKA China ini sudah berulang kali terjadi, sehingga menimbulkan spekulasi adanya kekuatan besar yang memberikan izin.

Inilah yang kemudian menimbulkan tanda tanya besar yang banyak disorot oleh banyak pengamat, baik di dalam maupun di luar negeri.

Bahwa, pemerintah saat ini tidak serius dalam penanganan pandemi Covid 19, bahkan beberapa media asing juga memberitakan lemahnya pemerintah kita dalam menangani pandemi Covid 19. 

Padahal Menteri Keuangan, Sri Mulyani, beberapa kali menyampaikan revisi anggaran penanganan yang hingga saat ini sudah mencapai angka 1000 T  lebih, menurut laporan BPK RI.

Beberapa pengamat dan politisi seperti Fadli Zon bahkan menyebut bahwa negara tidak mampu melindungi warganya.

Terutama jika kita melihat managemen penanganannya yang dirasa kurang sesuai oleh banyak kalangan.

Beberapa ekonom telah mengingatkan pemerintah akan ancaman resesi kedua yang sangat membahayakan perekonomian nasioanal kita.

Sementara kebijakan PPKM Darurat yang ditetapkan oleh pemerintah hingga saat ini belum bisa memberikan harapan dan angin segar bagi pertumbuhan ekonomi kita, bahkan makin terhempas badai Covid 19.

Sejumlah akademisi mendesak adanya perubahan dalam kebijakan penanganan Covid yang kini ditangani dengan PPKM Darurat.

Mereka menuntut pemerintah segera menjalankan UU Karantina selama 1 bulan dengan jaminan ketersediaan pangan untuk publik.

Tapi hingga saat ini, dengan segala argumentasinya pemerintah tetap tak bergeming dengan keyakinanya bahwa PPKM Darurat adalah pilihan yang terbaik.

Maka tidak heran jika banyak pengamat menuduh pemerintah tidak serius dalam membebaskan bangsa ini dari pandemi Covid 19.

Dalam kondisi ketidakpastian semacam ini, maka jatuhnya Hari Raya Idul Adha  tahun ini bisa dijadikan momentum bagi bangsa Indonesia.

Terutama kepada para pemimpin kita untuk meneladani sikap dan sifat Nabi Ibarim AS.

Karena setidaknya ada tiga catatan maha penting yang bisa diambil pelajaran, sesuatu yang menurut banyak pengamat defisit dalam konteks kepemimpinan nasional kita saat ini :

Keteladanan

Nabi Ibrahim telah memberikan keteladanan yang luar biasa, ketaatan pada keyakinan dan komitmen yang tinggi terhadap janji cintanya kepada Allah SWT.

Keteladanan yang harusnya ditunjukkan oleh para tokoh dan pejabat di negeri ini menjadi sesuatu yang saat ini sangat mahal harganya dan sulit kita temukan di negeri ini,

Kompleksitas persoalan yang pada gilirannya menimbulkan sengkaruk politik, ekonomi dan hukum makin menunjukkan tanda-tanda yang semakin menghawatirkan.

Kegagalan selalu dibungkus dengan melakukan justifikasi.

Munculah kelompok pendengung (buzzer) yang disnyalir terorganisir dan didanai.

Para buzzer yang pada akhirnya justru menimbulkan persoalan baru di masyarakat.

Kelompok kritis di masyarakat yang secara kebetulan berbeda dengan pemerintah dituduh sebagai anti pancasila, anti NKRI, pro Khilafah dan lain sebagainya.

Padahal kita tentu sering mendengar kegagalan para pejabat di luar negeri yang mengundurkan diri karena merasa tidak mampu menjalankan amanah rakyat.

Atau melakukan sesuatu yang mencederai kehendak rakyat, suatu hal yang tidak akan kita temukan di negeri ini.

Sikap demokratis dan komunikatif

Sikap Nabi Ibrahim terhadap sang putra Ismail dalam mendiskusikan mimpinya yang sangat tidak masuk akal menunjukkan sikap demokratis dan komunikatif.

Sikap semacam inilah yang harus dimiliki seorang pemimpin ketika berhadapan dengan masalah yang melibatkan rakyat banyak.

Masih jadi topik yang ramai ketika BEM UI memposting kalimat Jokowi The King of Lip Service.

Buntutnya kemudian para anggota BEM itu dipanggil Rektor UI yang kemudian menjadi kontroversi di kalangan para aktifis, termasuk para alumni UI.

Ini bentuk konkrit dari sikap penguasa yang anti kritik dan tidak mencerminkan sikap seorang demokratis.

Sikap yang tentu sangat kita sayangkan karena Presiden Jokowi terpilih melalui mekanisme demokrasi yang telah kita sepakati bersama.

Sikap penguasa yang sering menggunakan jasa para buzzer yang sering dikenal sebagai BuzzerRP dalam menangkal kritik dan masukan dari rakyatnya.

Ini sebagai bentuk komunikasi yang aneh dan justru semakin menimbulkan persoalan di masyarakat.

Bahkan tidak jarang para buzzer justru mengadu domba dan menebarkan kebencian terhadap masyarakat yang secara kebetulan berbeda dengan pemerintah, sebuah ironi sejarah.

Tawakkal kepada-Nya

Ketika di dalam suasana dilema dan masalah, maka Nabi Ibrahim hanya bertawakal kepada Allah.

Sebagai ummat beragama tentunya kita meyakini bahwa situasi sulit akibat pandemi yang berkepanjangan ini tentu juga atas kuasa Allah SWT sebagai pemegang otoritas tertinggi atas alam semesta dan segala isinya.

Karena itu hendaknya, pandemi ini menjadikan kita semakin mendekatkan diri pada Allah SWT baik secara individu maupun kolektif, baik rakyat maupun para pemimpin.

Di negeri kita ini yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah justru menutup tempat-tempat ibadah yang merupakan tempat kita mendekatkan diri pada yang maha segalanya.

Masjid ditutup, doa bersama dilarang, sholat berjamaah hanya di rumah dan hal paling aneh dirasa karena pada saat yang sama pemerintah masih tetap membuka penerbangan dari luar negeri.

Gerbang internasional dibuka lebar-lebar, membuka mall dan pasar, membuka perkantoran dan banyak juga sektor lain yang justru masih dibuka.

Sebagai ummat muslim, dalam kondisi ketidakpastian ekonomi karena pandemi Covid 19 ini, maka kita hanya bisa bertawakal kepada Allah SWT agar kondisi ini cepat berlalu.

Bahkan ditegaskan dalam beberapa hadist bahwa apabila penyakit diturunkan dari langit, maka akan dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan (memakmurkan) Masjid.

Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi Masjid.

Dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini, ummat Islam dianjurkan semakin rajin ke Masjid dan tidak malah meninggalkan serta menjauhi Masjid.

Siapa yang akan bertanggungjawab terhadap urusan akhirat kita, jika kita malah dianjurkan menutup Masjid.

Wallaahu a’lam

Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja, MM
(Anggota Forum Doktor UI)