Mengenal Sosok Umbu Landu Paranggi, Presiden Malioboro Yang Berpulang Hari Ini

0
84
Sumber : CNN Indonesia

Hari ini Indonesia kembali berduka. Salah satu sosok sastra besar Indonesia berpulang pada hari ini, 6 April 2021 tepatnya pukul 03.55 WITA, di Denpasar Bali. Kabar duka ini juga di sampaikan melalui akun instagram Kenduri Cinta. Sebuah majelis pembelajaran yang didirikan oleh Emha Ainun Nadjib. Seperti angin, kabar ini dengan cepat menyebar terutama dikalangan penyair dan seniman.

Sosok Umbu Landu Paranggi

Mahaguru bertitel Presiden Malioboro ini menjadi salah satu tokoh dibalik lahirnya para seniman dan sastrawan  besar dan terkemuka di Indonesia, sebut saja Emha Ainun Nadjib, Ragil Suwarno Pragolapati, Iman Budhi Santoso hingga Linus Suryadi A.G.

Penyair yang tahun ini berusia 78 tahun ini sempat menerima perawatan di RS Bali Mandara. Beliau dirawat di Rumah Sakit Mandara sejak Sabtu 3 April 2021. Berpulangnya penyair yang dikagumi banyak sastrawan Indonesia ini menjadi salah satu daftar trending topic Twitter dengan tagar #MaiyahBerduka.

Awal perjalanan Umbu Landu Paranggi

Lahir di Kanagar pada 10 Agustus 1943,  Umbu Landu Paranggi mengawali perjalanan sastranya di SMA Taman Siswa Yogyakarta meski akhirnya ia harus pindah sekolah ke SMA Bopkri Kotabaru. Disanalah ia bertemu dengan Lasiyah Soetanto yang merupakan mantan menteri peranan wanita pertama RI periode 1983-1987 sekaligus guru Bahasa Inggris yang ia sebut sebagai seorang guru yang tidak menggurui. Lasiyah meminta Umbu Landu Paranggi untuk membacakan puisi yang ia tulis, kala itu.

Umbu yang kala itu merupakan sosok pemuda pendiam, menuliskan puisinya diam-diam ditengah pelajaran Bahasa Inggris. Tertangkap basah, Lasiyah tidak menghukumnya. Namun memberikannya semangat untuk terus belajar.

Setelah menamatkan sekolah menengenah atas, Umbu sempat berkuliah dibeberapa universitas meskipun tidak ada satupun yang selesai. Dimasa itu Umbu aktif mengelola rubrik Sabana di surat kabar mingguan Pelopor Yogyakarta yang saat itu berkantor di Jalan Malioboro tahun 1960-an. Tahun yang sama ketika Umbu mencetuskan sebuaah apresiasi sastra yang adakan di emperan toko Malioboro, Yogyakarta.

Setahun kemudian, Umbu Landu Paranggi mendirikan komunitas penyair Malioboro. Itulah asal mula nama presiden maliboro yang tersemat pada Umbu. Darisanalah Ebiet G Ade, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Agus Dermawan, Emha Ainun Nadjib hingga Yudhistira Ardhi Nugraha lahir sebagai sastrawan-sastrawan besar dari sebuah kota yang berjuluk gudangnya penyair kala itu. Hal ini dibenarkan oleh Redaktur Majalah Horison, yang selalu menerima banyak kiriman puisi dari Kota Pelajar Yogyakarta.

Umbu Landu Paranggi sempat menghilang

Umbu Landu Paranggi sempat menghilang, berbagai kabar berhembus terkait kabar menghilangnya Umbu. Beberapa orang menduga ia berada di kampung halamannya di Sumba, beberapa orang juga mengatakan bahwa Umbu memutuskan untuk bermukim di Bandung untuk mengelola Harian Kami sebelum akhirnya diketahui bahwa Umbu berada di Denpasar, Bali.

Umbu Landu Paranggi memutuskan untuk hijrah dan menetap di pulau dewata dan meninggalkan Yogyakarta pada tahun 1994. 

Peran Umbu Landu Paranggi dalam dunia puisi Indonesia modern mulai mencuat ketika Umbu mendirikan Persada Studi Klub (PSK) bersama Iman Budi Santosa, Teguh Ranusastra Asmara serta Suwarna Pragolapati pada tahun 1968, tahun dimana Soekarno tumbang dan kelahiran Majalah Horisan serta Taman Ismail Marzuki. PSK pun menjadi sebuah kelompok yang memberikan totalitas profesi luar biasa.

Mahaguru yang luput dari sorotan

Meskipun aktif menerbitkan essai, artikel dan puisi sejak tahun 1950-an saat ia masih berada di Yogyakarta. Puisi-Puisi Umbu Landu Paranggi tidak banyak menarik perhatian para kritikus. Tak banyak karyanya yang dikenal, selain karena Umbu memang jarang mempublikasikannya.

Umbu Landu Paranggi memang kerap kali luput dari sorotan sejarah sastra Indonesia tetapi banyak seniman dan sastrawan generasi 1960-an hingga 1950 yang pernah bersentuhan dengannya. Banyak sastrawan yang berguru pada Umbu.

Banyak sastrawan kenamaan yang menyempatkan diri untuk bertemu Umbu jika sedang berkunjung ke Bali seperti Rendra, Sapardi Djoko Darmono, hingga Emha Ainun Nadjib yang merupakan murid  kesayangan Umbu.

Dalam sebuah unggahan video melalui akun @outletmaiyah, Emha Ainun Nadjib bercerita mengenai sosok Umbu Landu Paranggi yang begitu bersahaja. “Dia tidak kepincut dengan dunia. Dia raja besar, dia tinggalkan kerajaannya tetap jalan tapi dia tidak mau jadi raja, dia jadi gelandangan di Jogja dan di Bali,” Tutur Cak Nun.

Cak Nun menambahkan, puisi-puisi dari Umbu Landu Paranggi sejatinya diakui semua seniman penikmat sastra Indonesia, tapi sosok Umbu Landu Paranggi enggan dikenal. Ia enggan menjadi seorang yang mendapatkan sorotan.

Umbu Landu Paranggi memang sosok bersahaja, begitu rindang menaungi dan membuahkan banyak karya serta sastrawan, dengan rendah hati ia menyebut dirinya ‘pupuk’ saja. Menggelandang kemanapun hatinya ingin pergi dengan bekal kantung plastik yang penuh dengan naskah puisi.

Umbu memutuskan menghabiskan masa tuanya menikmati setiap hari dengan mengasuh rubrik Apresiasi di Bali Pos. Alumnus Fisippol UGM ini, mendapatkan penghargaan senin di tahun 2019  dari Akademi Jakarta.

Banyak sastrawan Indonesia yang mengungakpan duka kehilangan mereka, salah satunya adalah Puthut EA yang menyampaikan salam perpisahan melalui sebuah tulisan. “Umbu Landu Paranggi, mahaguru para penyair di Indonesia, wafat. Pergilah kuda Sumba kami. Dalam kilat derapmu. Menuju ufuk jauh. Tingkikmu menggema di lading ilalang terbuka,” pungkasnya.

Selamat jalan Umbu, menuju perjalanan panjangmu menuju. Terimakasih atas semua sumbangsihmu. Salam sayang dari penikmat karyamu. Terimakasih mahaguru.