Selasa, September 28, 2021
BerandaBeritaDari Kasus Pasangan Gay Thailand Kita Belajar, Lebih Bijak Bersosial Media Dan...

Dari Kasus Pasangan Gay Thailand Kita Belajar, Lebih Bijak Bersosial Media Dan Berkomentar

Berita ini berawal dari unggahan pasangan gay dari negeri gajah Thailand, Suriya Koedsang bersama pasangannya pada 4 april 2021 lalu. Seperti pernikahan pada umumnya, pernikahan Suriya dan suami berlangsung penuh suka cita dengan kehadiran orang-orang terdekat. Semuanya memberikan dukungan.

Unggahan ini sempat heboh dikalangan netizen Indonesia. Seolah ingin mempertahan reputasi sebagai negara dengan netizen tidak sopan alias bar-bar. Lansung unggahan dari Suriya tersebut dibanjiri komentar dari netizen Indonesia.

Banjir komentar jahat dan kritikan, akhirnya pasangan ini angkat bicara. Bagaimana kronologi lengkapnya ? yuk seimak ulasannya.

  • Komentar Jahat

Pernikahan sesama jenis memang masih sebuah hal yang tabu bahkan illegal di Indonesia. Banyak masyarkat yang menganggap bahwa ini merupakan hal menyimpang yang pelakunya harus dibasmi hingga ke akar.

Stigma ini kemudian berkembang menjadi ketakutan terhadap kaum pro LGBT. Melihat unggahan dari Suriya  yang dibagikan akun-akun facebook Indoensia, netizen Indonesia langsung panas dan gatal untuk segera memebrikan komentar jahat, menghina, merendahkan atau cenderung mengancam.

Tidak tanggung-tanggung, 3 hari 3 malam netizen Indonesia terus menggempur social media milik Suriya.

Parahnya komentar jahat ini tidak berhenti pada Suriya, namun pada keluarganya. Berbagai komentar jahat serta ancaman membuat Suriya dan keluarganya merasa terganggu.

Hingga kini belum ada penjelasan yang pasti terkait pemicu terpilihnya Suriya menjadi target cyber bullying netizen Indonesia.

  • Suriya angkat bicara

Banyaknya komentar jahat yang menggangu membuat Surya yang awalnya tidak ingin memberikan tanggapan berubah pikiran. Panjang lebar ia menjelaskan persaanya yang tidak nyaman.

“aku memiliki banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku, kenapa? Kami memutuskan untuk menikah disebuah rumah yang hangat dengan keluarga, ditempatku sendiri, dinegaraku, dan ada apa dengan Indonesia serta Orang Indonesia? Kenapa harus sedramatis itu? Kenapa ini harus terjadi pada kami ketika banyak pasangan LGBTQ yang melakukan upacara pernikahan disini? Keapa kami?” Tulisnya.

Lebih jauh lagi ia memberikan tanggapan “sesungguhnya aku menghormati semua agama. Ketika aku bersekolah di Pattani yang mayoritas penduduknya beragama islam, aku tidak pernah mengalami masalah ataupun kesulitan kala itu. Selain itu, keluarga Muslim mendukungku. Agama tidak mengajarkanmu untuk membenci orang lain, merendahkan orang lain. Sebaliknya agama mempengaruhi hati manusia agar menjadi baik” pungkasnya.

Suriya juga memberikan pengakuan mengejutkan bahwa ia, teman dan kerabatnya bahkan sampai fotografernya mendapat kiriman ancaman berupa video-video kekerasan untuk menakut-nakutinya.

  • Reaksi warga Thailand

Kisah tragis ini tentunya mengundang semangat solidaritas dari warga Thailand. Netizen dari kedua negara sempat terlibat perang komentar, hingga seorang pengacara Ronnarong Kaewpetch juga terbawa emosi. Ronnarong merupakan seorang pengacara dari Network Campaigning for Justice yang memberikan pertolongan dan bantuan hukum kepada Suriya.

Pasangan asal Thailand tersebut terpaksa meminta harus menempuh langkah hukum karena banyaknya komentar yang menggunakan ancaman kematian pada dirinya, pasangan dan keluarga. Sadis ya netizen Indonesia

Ronnarong bahkan meminta agar Thailand tidak lagi menerima warga negara Indonesia yang telah berkomentar jahat untuk berkunjung ke Thailand. “Orang Indonesia, jangan mengira kalian ada disana, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap hari anda memasuki Thailand, saya akan meminta polisi menunggu dengan surat perintah penangkapan terhadap anda” katanya geram. 

Meski belum memiliki pengakuan secara hukum, pernikahan sesama jenis di Thailand memang bukan hal ilegal untuk dilakukan. Mengingat tidak adanya payung hukum resmi yang melarang warga Thailand untuk melakukannya.

  • Selamat Indonesia membuktikan Gelar Netizen paling tidak sopan di Asia Tenggara.

Mau tidak mau kita harus mengakui kebenaran riset yang pernah dilakukan oleh tim Microsoft pada Februari 2021 lalu. Berdasarkan sebuah survey dengan tajuk Digital Civility Index 2020 itu akhirnya menemukan sebuah fakta menarik bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai netizen yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

Meskipun sempat membantah hasil survey, well rupanya kita harus dengan lapang dada mengakui kebenarannya. Sebut saja penyerangan terhadap akun official dari All England yang terbabat habis oleh serangan netizen Indonesia saat seluruh tim bulu tangkis Indonesia tidak dapat bermain karena issue Covid-19.

Butki keganasan netizen Indonesia lainnya adalah ketika netizen rama-ramai memberikan rating rendah pada aplikasi ReStock yang ada di Google Play Store. Rupanya netizen mengira bahwa aplikasi tersebut adalah aplikasi yang didirikan oleh pengemudi Fortuner yang sempat ramai diperbincangangkan setelah mengacungkan senjata api.

Keganasan netizen juga terlihat saat kisruh dewa kipas yang akunnya di Banned oleh chess.com

  • Tagar #IndonesiasaysorryforThailand

Tagar ini merajai topik pencarian di twitter. Beberapa orang Indonesia menyerukan orang-orang yang tidak bertanggungjawab telah memberikan komentar jahat untuk menghapus komentarnya dan memberikan dukungan kepada Suriya.

Komentar jahat netizen rupanya telah menyulut ketegangan dari warga Thailand. Sebuah akun Instagram @lutiabdullah membagian ceritanya. Ia yang sedang terlibat dalam project kementrian Kesehatan Thailand dan sedang bertugas di Desa Khlong Toei mendapat menolakan dari warga setempat.

Warga desa tersebut memiliki kini mengeskalasi kejadian ini dan memiliki pandangan akan orang Indonesia yang begitu intoleran.

Juga kisah seorang netizen yang Namanya disamarkan. Ia mengaku telah menabung selama 3 tahun untuk dapat berkuliah diThailand. Namun mimpinya harus kandas karena jari jemari jahat yang tidak bertanggungjawab.

  • Dari Kasus Pasangan Gay Thailand Kita Belajar

Dari kasus ini kita semua belajar. Bahwa ternyata masih banyak bagian dari masyarakat kita yang belum memiliki kedewasaan dalam bersosial media. Mereka merasa begitu bebas berkomentar. Tidak peduli bagaimana dan apapun target komentar mereka.

Mereka mungkin merasa aman bersembunyi dibalik kolom komentar dengan akun palsu yang sengaja mereka buat untuk menyebarkan kebencian.

Mereka yang merasa paling benar juga tanpa perasaan membunuh orang dengan kata-kata kasar yang mereka lontarkan secara sadar. Dibalik layar komentar itu, ada seseorang yang mungkin sedang menangis sesegukan.

Memikirkan kesalahan apa yang pernah mereka lakukan sehingga mendapatkan hujatan yang demikian. Komentar jahat itu akan selalu mereka pikirkan seperti duri yang menusuk satu persatu permukaan tubuh. Tanpa sadar beberapa orang terbunuh karena komentar yang keterlakukan dan amat sangat menyakitkan.

Kasus ini adalah peringatan untuk kita semua. Untuk saling mengingatkan dengan bijak. Tidak harus mengunmpat untuk mengingatkan kebaikan kan?

Homoseksual salah, tidak adalah satupun agama yang membenarkan. Tapi kebenaran itu, tidak lantas memberikan kita hak untuk menghukum dan menghakimi orang lain. Akhir tulisan ini adalah sebuah kutipan yang pernah dikatakan oleh Omar Imran “Kalau jadi religious membuatmu mudah menghakimi oranglain, kasar, keras dan fitnah. Periksalah! Kamu menyembah Tuhan atau Egomu? Selamat malam, salam toleransi!

Berita Terkait
- Advertisment -

TERPOPULER