Covid-19 Varian Delta Kian Mewabah di Seluruh Dunia

0
24
Covid-19 Varian Delta

Ekspose.ID – Covid-19 Varian Delta saat ini tengah menghantui sejumlah negara yang ada di dunia. 

Bahkan banyak pihak menyebutkan jika varian Delta menjadi penyebab meningkatnya kasus penularan Covid-19.

Salah satu negara yang kembali mengalami lonjakan kasus ialah China. 

Mereka mencatat infeksi kasus penularan Covid-19 dalam data harian tertinggi. 

Peningkatan kasus tersebut dominan berada di kawasan Provinsi Yunnan yang berada di batas Myanmar.

Wabah Corona yang terjadi di Yunnan menjadi laporan kedua China dengan Covid-19 Varian Delta. 

Laporan tersebut menyusul wabah kecil yang terjadi sebelumnya di provinsi Guangdong.

Penularan Covid-19 Varian Delta Hanya 15 Detik

Bukan hanya di China, dugaan Covid-19 Varian Delta sebagai biang keladi peningkatan kasus juga berlaku di negara Malaysia. 

Dirjen kesehatan Malaysia mengungkap jika penularan varian delta tergolong begitu cepat.

Kecepatannya sendiri bahkan berlangsung dalam hitungan detik saja. 

Dr Noor Hisham selaku dirjen kesehatan mengungkap jika di masa lalu mereka mengetahui tentang infeksi varian delta. 

Infeksi tersebut lewat kontak dekat dengan jarak kurang dari 1 meter dalam waktu 15 menit.

Akan tetapi kini mereka mendapat informasi jika varian delta bisa menginfeksi seseorang dalam waktu 15 detik saja. 

Virus tersebut menyebar melalui udara. Serta tingkat penularan virusnya tergolong jauh lebih tinggi.

Mereka juga melakukan perbandingan terhadap virus asli Covid-19. Angka penularan pada virus asli tersebut berada di 2,5 sampai 3. 

Sedangkan pada varian Delta berada di rentang angka mulai dari 5 sampai 8.

Hal tersebut mengartikan jika ada 100 orang terpapar varian Delta, virus tersebut bisa menyebar hingga ke 800 pihak lainnya. 

Seperti yang orang ketahui, corona di Malaysia juga terdampak keberadaan varian delta. 

Bahkan varian tersebut menyebabkan terjadinya lonjakan jumlah pasien yang ada di kamar ICU.

Parahnya lagi beberapa di antara pasien tersebut sudah meninggal sebelum mendapat penanganan dalam fasilitas kesehatan. 

Kasus penularan Covid-19 Varian Delta juga tampak dari timbulnya sejumlah klaster terbaru di kawasan Malaysia.

Gejala Varian Delta Lebih dari Penyakit Flu Biasa

Sejumlah penelitian para saintis lakukan agar bisa terbebas dari virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab mewabahnya Corona. 

Akan tetapi di saat bersamaan virus tersebut muncul dengan mutasi terbaru di antaranya Covid-19 Varian Delta.

Karena itulah cara virus mempengaruhi orang pada akhirnya memunculkan gejala yang kian berbuah. 

Kendati demikian gejala yang umum timbul antara lain batuk, demam, sesak nafas, kehilangan rasa maupun penciuman semuanya serupa sejak keberadaan pandemic.

Namun penyakit tersebut bukanlah satu-satunya gejala yang kerap terjadi di kalangan pasien. 

Orang-orang juga melaporkan penyakit lainnya mulai dari sakit kepala sampai diare. 

Semua gejala itu sudah terdaftar di ikhtisar Pusat Pengendalian serta Pencegahan penyakit mengenai gejala umum.

Kini varian delta dengan nama lain B.1.617.2 sudah beredar luas di seluruh dunia. 

Bahkan kini menjadi strain utama di kawasan Amerika Serikat beserta beberapa negara lainnya. 

Varian delta ini memukul keras kawasan dengan jumlah tinggi masyarakat yang tidak mendapat vaksinasi.

Ada beberapa bukti jika gejala awal yang terkait dengan delta kemungkinan sedikit berbeda daripada virus pertama. 

Meskipun begitu pada ahli memperingatkan gejala tersebut masih terlalu dini untuk mereka katakan dalam definitive.

Informasi yang mereka dapatkan dari Inggris maupun Eropa serta sejumlah survei di Amerika Serikat menunjukan jika infeksi virus delta cenderung menghasilkan gejala khas. 

Gejala tersebut terjadi saat mereka bandingkan dengan flu pada umumnya.

Para ahli baru-baru ini melihat jumlah besar dalam kasus penularan Covid beserta rawat inap. 

Rata-rata gejala yang pasien rasakan antara lain batuk ringan, hidung tersumbat maupun sakit tenggorokan. 

Gejala yang mereka lihat sebelumnya seperti pernapasan maupun demam cenderung rendah dan jarang terjadi.

Sayangnya para ahli belum mengerti mengapa gejala Covid-19 varian delta kemungkinan sedikit berbeda. 

Menurut salah satu ahli, bisa saja sekarang lebih banyak infeksi yang terjadi ada orang lebih muda.

Ahli Menemukan Varian Delta di Lima Kota Kawasan Kaltara

Bukan hanya di luar negeri, Indonesia sendiri juga menjadi negara yang terpapar varian terbaru Corona. 

Sebanyak delapan kasus Covid-19 varian delta para ahli temukan di lima kabupaten atau kota Kaltara yakni Kalimantan  Utara.

Kasus tersebut sudah mendapat kepastian dari Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 setempat. 

Kedelapan specimen varian baru tersebut sudah tersebar di seluruh kabupaten maupun kota. 

Ia juga menjelaskan jika penemuan delapan varian terbaru memiliki kecenderungan yang lebih kuat.

Selain itu terdapat kemungkinan sudah terjadi penyebaran pada kontak yang erat lainnya. 

Karena hal inilah pihak mereka atas nama satgas mengimbau kepada semua masyarakat di kawasan Kaltara untuk tidak panic dengan kondisi terkini.

Meskipun begitu masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan serta menerapkan protokol kesehatan standar dengan cara paling baik. 

Bukan itu saja, ia pun memberikan himbauan kepada Dinas Kesehatan setempat agar dalam minggu ini mengambil sejumlah sampel dengan perkiraan potensi penularan.

Kemudian sampel tersebut akan mereka kirimkan ke Litbangkes yang ada di Kementerian Kesehatan. 

Mereka juga mengimbau menerapkan peraturan prokes juga peningkatan imunitas tersendiri. 

Caranya yakni dengan memakan makanan yang bergizi serta meminum suplemen sesuai kebutuhan serta tetap berolahraga.

Sebelum ini, satgas Covid-19 sudah mengirimkan 32 sampel ke Litbangkes. 

Hasilnya terdapat 8 spesimen yang mereka nyatakan positif berupa Covid-19 varian delta.

Perluasan Varian Delta Mempengaruhi Harga Emas

Harga emas dunia kembali mengalami penguatan seiring dengan melonjaknya penyebaran Covid-19 varian Delta. 

Hal tersebut membuat minat investor terhadap aset berupa safe haven meningkat. 

Melansir dari data terpercaya, harga emas dalam pasar terpantau dalam kisaran US$ 1. 817,21.

Harga tersebut untuk satu troy ounce dengan kisaran nilai naik sampai 0,25 persen. 

Sedangkan harga emas jenis Comex mengalami penguatan sampai 0,47 persen di angka US$ 1.817,70 untuk per troy ounce.

Terkait gelombang penyebaran baru virus corona sekarang ini mengancam prospek secara positif terkait pemulihan ekonomi secara global. 

Hal ini tampak dari kemerosotan imbal hasil obligasi AS dengan tenor panjang ke level terendah.

Kemerosotan tersebut terjadi sejak bulan Februari 2021 lalu dengan imbas positif untuk investor yang memegang emas. 

Di sisi lain pemerintah kawasan AS pada hari Senin kemarin mengimbau warganya tak bepergian ke Indonesia maupun Inggris.

Jumlah keterisian rumah sakit yang ada di negara bagian Texas mengalami lonjakan ke level tinggi sejak Bulan April 2021 lalu. 

Lonjakan penyebaran virus tersebut memiliki potensi menjadi penundaan pembuka kembali kegiatan ekonomi di ranah global.

Hal ini juga akan memberikan lebih banyak insentif pada bank sentral guna memperpanjang kebijakan moneter yang tergolong longgar. 

Harga logam mulia sudah mengalami rebound dalam satu bulan terakhir.

Kisarannya kini berada di atas US $ 1.800 untuk satu troy ounce. 

Kendati demikian penularan Covid-19 Varian Delta bisa berpengaruh terhadap ekonomi dunia.